Minggu, 11 September 2011

Puisi Lama

Hanya Cinta

Puisi di antara puisi..
Kusampaikan apa yang harus aku katakan..
Tentu saja kepadamu..
Adalah cinta diantara cinta..
Tatkala kau bukakan pintu, aku masuk dan berbincang-bincang..
Hal remeh temeh, tapi untuk sesuatu yang lebih komplek..
Dan segelas teh dengan cinta di baliknya..
Tatapan dengan cinta di dalamnya..
Bahasa tubuh dengan cinta adalah artinya..
Semua cinta, cinta dan cinta..
Karena kau telah torehkan sesuatu yang sangat pas di hati ini..

Dan rindu di antara rindu..
Aku menunggu, dengan jarak dan waktu yang menyebalkan!!
Hei! Aku bertahan... !
Tak mungkin ku jera dengan keadaan..
Ini bukan hanya sekedar duduk-duduk di bawah pohon rindang dan berteduh..
Ini adalah sebuah pilihan..
Dan takdir aku harap..
Dan aku di antara keakuan yg tak sempurna..
berbagi cinta, untuk sebuah kesempurnaan..

Aku

Apakah aku telah menjadi aku yang seutuhnya?
Ketika kemunafikan dan mimpi duniawi yang berkuasa di bumi ini..

Aku yang menangisi kehidupan di arah yang berbeda Aku yang tertawa dengan segala kebodohan ini
Aku yang berpaling muka melihat kemunafikan itu
Aku yang mencari arti cinta..

Mungkinkah segala tanya ini dapat terjawab?
Diantara benar dan salahku menjadi abu abu..
Dan khayalan-khayalan yang tak kunjung usai
Sementara aku tersangkut di tengah jalan..

Kadang aku melihat, aku yang terseok-seok angin dunia
Terjatuh dan terluka..
Dan kadang aku mendengar begitu banyak kata cinta untukku
Indah dan bergejolak..
Yang membuatku tetap melangkah.

Semua tentang aku yang berusaha bangkit
Walaupun yang kulakukan tak kunjung nyata
Semua tentang aku, yang percaya 'kan indah pada waktunya...


Kita (Satu)

Kita terhubung
akan benang sutera yang indah
kisah dari perjalanan panjang
dan ini baru beberapa langkah

masih banyak misteri
yang membuat kita berbeda
belum seutuhnya satu..
kita satu tapi bukan satu,
bukan juga dua!
kita satu?

kita dalam masa transisi
menuju masa dimana pintumu,
benar-benar terbuka..
bahkan kuncimu ada padaku,
begitu pula dengan kunciku

ini adalah masalah waktu,
apalagi kita belum bertemu
setelah kita satu..
kita adalah pasangan kekasih,
tapi kita juga tak lebih
dari teman yang baru berkenalan,
bukan begitu?

baru 'kemarin' kita bercakap-cakap
dan akhirnya kita menjadi satu

itu adalah mengagumkan..
terlebih bagiku, aku bahagia jadi mlilkmu.

dan karenanya..
aku ingin segera melewati masa-masa ini
aku ingin benar-benar jadi satu dengan mu!
aku ingin kau mendengarkan degupan jantungku
merasakan getaran karenamu..

tapi, ada tembok yang tebal di antara kita
dan aku belum bisa menembusnya

kuharap kita memahami hubungan ini..

hmm..

masih terlalu banyak misteri
masih terlalu banyak tanya
masih terlalu banyak curiga
masih terlalu banyak resah..

tapi ada cinta di antara kita
dan kita pasti bisa melewatinya,
bukan begitu sayang?


sayang..
bila kau bosan dengan semua ini,
dan kau ingin menyerah
bicaralah....

aku mencintaimu.....

Sabtu, 10 September 2011

Pemanasan Global


Puisi, Soe Hok Gie

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia. Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Berikut Puisi-puisi nya
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
—————————————————————
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(CSD, Selasa, 11 November 1969)
Note:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.
—————————————————————
Mandalawangi – Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
—————————————————————
Pesan
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?