Jumat, 16 September 2011

ANTAPALA, The Other Side Of My Life


Profil Club Pecinta Alam Antapala SMK negeri 3 Kuningan

Nama Oraganisasi : Anak Teknika Pecinta Alam ( ANTAPALA )
Berdiri : Kuningan, 29 desember 1993
Kedudukan : SMK Negeri 3 kuningan
Alamat : Jl Raya Cirendang – Cigugur Kec. Kuningan,
Kab. Kuningan Kode pos 45518.
E-mail : pa_antapala@yahoo.com
Website : www.antapala.co.cc
Facebook : antapala

Sejarah singkat :
ANTAPALA berdiri pada tanggal 29 desember 1993 yang dirintis oleh 2 orang yang berpengalaman didunia ke pecinta alaman beliau adalah bapak Ramlan Safei dan bapak Amallo. Mula – mula organisasi ini bernama GARPALA (Gabungan Pemuda Pecinta Alam) Berlaku selam 3 Periode, untuk angkat 4 sampai sekarang bernama ANTAPALA.

Sekilas tentang ANTAPALA:
Antapala merupakan salah satu ekstrakurikuler yang ada di SMKN 3 Kuningan, yang bergerak di bidang pecinta Alam. Antapala sendiri lebih memfokuskan kegiatannya pada Lingkungan hidup dan olahraga alam bebas.

Lambang ANTAPALA :

Lambang Antapala merupakan Lingkaran kuning dan didalamnya terdapat gunung dan telapak kaki kanan dengan dikelilingi oleh kelopak bunga dan didasari dengan warna dasar biru.

Arti Lambang :
• Lingkaran kuning :
Mencerminkan keceriaan dan kegembiraan dalam berorganisasi
• Gunung :
Sesuatu yang tertinggi yang menjadi harapan dan tujuan walaupun untuk menempuhnya di perlukan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
• Gunung Putih :
Suatu gunung yang terlihat dari dekat akan berwarna putih karena terhalang kabut
• Gunung biru :
Suatu gunung yang dilihat dari kejauhan akan berwarna biru
• Telapak kaki :
Pecinta alam harus meninggalkan kesan yang baik dimana pun ia berada
• Kelopak bunga :
Anggota pecinta Alam ANTAPALA harus menjadi kader penerus dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama
• Warna Dasar biru :
Pecinta alam harus menjadi pengayong yang memberi keteduhan, memberi perlindungan bagi alam semesta yang lestari.

serba-serbi ANTAPALA dalam satu tahun terakhir:
"Kuningan, 17 Agustus 2009. Antapala dinobatkan sebagai juara 2 lomba penghijauan dan konservasi alam, katagori kelompok pecinta alam, yang di adakan oleh pemerintah kabupaten kuningan. untuk juara pertama diraih oleh kelompok pecinta alam AKAR."

Minggu, 11 September 2011

Introducing-introducingan...

   Sebenernya udah lama gue kepengen bikin blog, tapi dulu-dulu gue bingung buat apa entarnya? lah, kan gue kagak punya PC di rumah, jangan berprasangka gue ini ketinggalan zaman. Gue cuma kampungan (baca: tinggal di kampung). Berawal minjem sebuah buku yang niscaya memberikan ilham kepada sang musafir seperti gue, yaitu buku 'rahasia cari duit di internet'. Berhubung gue orangnya labil nan kece gue langsung aja berkhayal, ongkang-ongkang kaki di rumah tapi duit ngalir... bagaikan kali ciliwung yang berkilau... (jangan protes!).
Ya intinya sih, kagak mungkin duit ngalir kaya kali ciliwung begitu aja tanpa kerja keras banting tulang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala.. ckckckc.. kebayang gak?
    Tapi alasan gue bikin blog bukan itu juga sih, gue ini rada, agak, dikit-dikit punya hobi menulis gitu. Jangan ketawa bro! pokoknya, mudah-mudahan rencana/mimpi gue ini tercapai, dan, maka, alhasil blog ini pun bakal enak buat loe pelototin. 
    Nulis apalagi ya? gue kenalin diri aja ya? mau tau nama gae kan?. Dari dulu gue emang rada sungkan kalau mau ngenalin diri, nama gue kagak enak di denger, kalau di FB sih.. Frusciante D. Ocho, keren gak? 'Frusciante' gue ambil dari nama belakangnya mantan gitaris RHCP, 'D.' gue ambil dari nama-nama di komik One Piece dan 'Ocho' nama panggilan gue waktu kecil (kelas 5 ke bawah, sebelum di sunat). mo kenalan apa ngedongeng??!!!! hehehe.. sorry bro, sist..
    Maka dari itu, di blog ini gue mau jujur, apa adanya, lugas, tegas dan adil!!! nama gue warsono, ehmm.. w-a-r-s-o-n-o, muka loe biasa aja dong! emang itu nama gue, nama gue kalau di kampung gue sama dengan nama-nama lelaki, atau lebih tepatnya bapak-bapak 40 tahun ke atas. Gue juga bingung, kenapa bokap gue kasih nama yang kolot ke gue? padahal kalau di lihat dari struktur muka gue, harusnya nama gue tuh Brian, Alex, Rico atau seenggaknya Asep lah...
    Ngomong-ngomong soal nama, gue punya pengalaman unik nih. Waktu itu gue lagi mau bayar pajak motor di Samsat Bekasi, setelah gue nyerahin fotocopy KTP dll gue nunggu di kursi, dan tak lama kemudian (dibaca: 67 menit)  Pak Polisi manggil "Warsono, Warsono!" gue langsung bergegas kedepan, polisi itu diam sejenak lihat muka gue yang tampan lalu dia bertanya "Warsono kamu?. " Iya pak" jawab gue. Polisi lihat fotocopy KTP gue trus lihat muka gue lagi, kalau  bukan polisi (anak SD bandel) gue tabok tuh orang!! 
     Loe bisa panggil gue Ocho, jangan Ono, Oh No!
     Intinya dengan blog ini gue mau ngeluarin isi dalam otak gue (mati dong?), tunggu saja bro and sista, sekarang ini gue lagi dalam masa sulit, lagi berjuang, doain gue ya bro and sist. Masih banyak yang harus gue pelajari, banyak sekali hal-hal yang konyol yang gue lakuin, gue harus berubah.
      Tadinya gue mau udahan nih nongkrong di warnet, tapi motor gue lagi di pake barusan sama temen gue yang bareng ke ini warnet. Gue mau nyeritain hobi gue aja ya.. gue tuh suka baca novel, naik gunung, barusan tanggal 3 kemarin gue habis naik lagi, pokoknya yang kepengen naek gunung ciremai dan butuh guide, hubungi gue aja di FB dengan nama yang di atas disebutin. Gue punya obsesi, mendaki gunung se-Indonesia dan menjadi penulis novel berbakat! amien...
     Udah dulu bro and sist, kalau lama-lama di depan monitor mata gue suka sepet.



NB: Jangan protes tentang EYD yang gak beraturan.
    

Puisi Lama

Hanya Cinta

Puisi di antara puisi..
Kusampaikan apa yang harus aku katakan..
Tentu saja kepadamu..
Adalah cinta diantara cinta..
Tatkala kau bukakan pintu, aku masuk dan berbincang-bincang..
Hal remeh temeh, tapi untuk sesuatu yang lebih komplek..
Dan segelas teh dengan cinta di baliknya..
Tatapan dengan cinta di dalamnya..
Bahasa tubuh dengan cinta adalah artinya..
Semua cinta, cinta dan cinta..
Karena kau telah torehkan sesuatu yang sangat pas di hati ini..

Dan rindu di antara rindu..
Aku menunggu, dengan jarak dan waktu yang menyebalkan!!
Hei! Aku bertahan... !
Tak mungkin ku jera dengan keadaan..
Ini bukan hanya sekedar duduk-duduk di bawah pohon rindang dan berteduh..
Ini adalah sebuah pilihan..
Dan takdir aku harap..
Dan aku di antara keakuan yg tak sempurna..
berbagi cinta, untuk sebuah kesempurnaan..

Aku

Apakah aku telah menjadi aku yang seutuhnya?
Ketika kemunafikan dan mimpi duniawi yang berkuasa di bumi ini..

Aku yang menangisi kehidupan di arah yang berbeda Aku yang tertawa dengan segala kebodohan ini
Aku yang berpaling muka melihat kemunafikan itu
Aku yang mencari arti cinta..

Mungkinkah segala tanya ini dapat terjawab?
Diantara benar dan salahku menjadi abu abu..
Dan khayalan-khayalan yang tak kunjung usai
Sementara aku tersangkut di tengah jalan..

Kadang aku melihat, aku yang terseok-seok angin dunia
Terjatuh dan terluka..
Dan kadang aku mendengar begitu banyak kata cinta untukku
Indah dan bergejolak..
Yang membuatku tetap melangkah.

Semua tentang aku yang berusaha bangkit
Walaupun yang kulakukan tak kunjung nyata
Semua tentang aku, yang percaya 'kan indah pada waktunya...


Kita (Satu)

Kita terhubung
akan benang sutera yang indah
kisah dari perjalanan panjang
dan ini baru beberapa langkah

masih banyak misteri
yang membuat kita berbeda
belum seutuhnya satu..
kita satu tapi bukan satu,
bukan juga dua!
kita satu?

kita dalam masa transisi
menuju masa dimana pintumu,
benar-benar terbuka..
bahkan kuncimu ada padaku,
begitu pula dengan kunciku

ini adalah masalah waktu,
apalagi kita belum bertemu
setelah kita satu..
kita adalah pasangan kekasih,
tapi kita juga tak lebih
dari teman yang baru berkenalan,
bukan begitu?

baru 'kemarin' kita bercakap-cakap
dan akhirnya kita menjadi satu

itu adalah mengagumkan..
terlebih bagiku, aku bahagia jadi mlilkmu.

dan karenanya..
aku ingin segera melewati masa-masa ini
aku ingin benar-benar jadi satu dengan mu!
aku ingin kau mendengarkan degupan jantungku
merasakan getaran karenamu..

tapi, ada tembok yang tebal di antara kita
dan aku belum bisa menembusnya

kuharap kita memahami hubungan ini..

hmm..

masih terlalu banyak misteri
masih terlalu banyak tanya
masih terlalu banyak curiga
masih terlalu banyak resah..

tapi ada cinta di antara kita
dan kita pasti bisa melewatinya,
bukan begitu sayang?


sayang..
bila kau bosan dengan semua ini,
dan kau ingin menyerah
bicaralah....

aku mencintaimu.....

Sabtu, 10 September 2011

Pemanasan Global


Puisi, Soe Hok Gie

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia. Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995). Berikut Puisi-puisi nya
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
—————————————————————
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(CSD, Selasa, 11 November 1969)
Note:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.
—————————————————————
Mandalawangi – Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
—————————————————————
Pesan
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Home Sweet Home

Gunung Ceremai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gunung Ceremai

Gunung Ceremai dari arah Cigugur, Kuningan
Ketinggian3078 m
Lokasi
LokasiJawa Barat, Indonesia
Koordinat6.53°LS 108.24°BT
Gunung Ceremai (seringkali secara salah kaprah dinamakan "Ciremai") secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon,Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.
Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.
Kini G. Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai(TNGC), yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.
Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai, suatu gejala hiperkorek akibat banyaknya nama tempat di wilayah Pasundan yang menggunakan awalan 'ci-' untuk penamaan tempat.

Daftar isi

 [sembunyikan]

[sunting]Vulkanologi dan geologi

G. Careme di awal abad ke-20. Foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam.
Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan,Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.
Ceremai merupakan gunungapi generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).
Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai.

[sunting]Jalur pendakian

Puncak gunung Ceremai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam "AKAR" (Anak Kuningan Alam Rimba) yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.

[sunting]Keanekaragaman hayati

[sunting]Vegetasi

Hutan-hutan yang masih alami di Gunung Ceremai tinggal lagi di bagian atas. Di sebelah bawah, terutama di wilayah yang pada masa lalu dikelola sebagai kawasan hutan produksi Perum Perhutani, hutan-hutan ini telah diubah menjadi hutan pinus (Pinus merkusii), atausemak belukar, yang terbentuk akibat kebakaran berulang-ulang dan penggembalaan. Kini, sebagian besar hutan-hutan di bawah ketinggian … m dpl. dikelola dalam bentuk wanatani (agroforest) oleh masyarakat setempat.
Sebagaimana lazimnya di pegunungan di Jawa, semakin seseorang mendaki ke atas di Gunung Ciremai ini dijumpai berturut-turut tipe-tipe hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest) dan hutan subalpin (subalpine forest), dan kemudian wilayah-wilayah terbuka tak berpohon di sekitar puncak dan kawah.
Lebih jauh, berdasarkan keadaan iklim mikronya, LIPI (2001) membedakan lingkungan Ciremai atas dataran tinggi basah dan dataran tinggi kering. Sebagai contoh, hutan di wilayah Resort Cigugur (jalur Palutungan, bagian selatan gunung) termasuk beriklim mikro basah, dan di Resort Setianegara (sebelah utara jalur Linggarjati) beriklim mikro kering.
Secara umum, jalur-jalur pendakian Palutungan (di bagian selatan Gunung Ciremai), Apuy (barat), dan Linggarjati (timur) berturut-turut dari bawah ke atas akan melalui lahan-lahan pemukiman, ladang dan kebun milik penduduk, hutan tanaman pinus bercampur dengan ladang garapan dalam wilayah hutan (tumpangsari), dan terakhir hutan hujan pegunungan. Sedangkan di jalur Padabeunghar (utara) vegetasi itu ditambah dengan semak belukar yang berasosiasi dengan padang ilalang. Pada keempat jalur pendakian, hutan hujan pegunungannya dapat dibedakan lagi atas tiga tipe yaitu hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan atas dan vegetasi subalpin di sekitar kawah. Kecuali vegetasi subalpin yang diduga telah terganggu oleh kebakaran, hutan-hutan hujan pegunungan ini kondisinya masih relatif utuh, hijau dan menampakkan stratifikasi tajuk yang cukup jelas.

[sunting]Margasatwa

Keanekaragaman satwa di Ceremai cukup tinggi. Penelitian kelompok pecinta alam Lawalata IPB di bulan April 2005 mendapatkan 12 spesies amfibia (kodok dan katak), berbagai jenis reptil seperti bunglon, cecak, kadal dan ular, lebih dari 95 spesies burung, dan lebih dari 20 spesies mamalia.
Beberapa jenis satwa itu, di antaranya:

Hari Yang Indah

  Apapun yang kita alami, hendaknya selalu disyukuri kurang dan lebihnya. Blog ini dibuat di hari yang indah, setelah yang indah dan akan selalu indah
  Banyak sekali yang ingin gue tulis, tapi waktu yang mepet dan kejepit membuat ide-ide briliant di otak gue bagaikan benang kusut yang kesundut rokok. Tunggu aja bro, sist, blog ini bakalan menjadi blog yang fenomenal!!!!